Advertorial Bisnis Online

Difteri Pada Anak



Bakteri Corynebacterium Diphtheriae

Pernahkah si kecil mengeluh dirinya mengalami sakit pada tenggorokan? Atau si kecil berkata rasanya lehernya sakit ketika menelan makanan atau bahkan minuman sekalipun? Bila ini terjadi dan disertai dengan gejala demam, sakit kepala, denyut jantung berdetak lebih cepat, mual dan muntah, ibu harus waspada karena sepertinya anak ibu mendapatkan gejala penyakit difteri yang disebabkan bakteri penghasil racun.


Penyakit difteri

Penyakit Difteri merupakan salah satu penyakit menular yang menyerang saluran pernafasan bagian atas.Penularan umumnya terjadi lewat percikan ludah dari orang yang terkena difter (pembawa kuman) ke orang lain yang sehat. Karena bakteri ini ada di ludah maka tentu saja Difteri juga dapat ditularkan melalui benda atau makanan yang terkontaminasi.

Difteri disebabkan oleh bakteri yang bernama Corynebacterium Diphtheriae. Bakteri ini tidak bergerak dan tidak membentuk spora. Namun demikian bakteri ini dapat membentuk membran lapisan tipis berwarna putih keabu-abuan di daerah mukosa hidung, mulut sampai tenggorokan.


Gejala Penyaki Difteri

dalam kurun 1-4 hari setelah terinfeksi bakteri, anak dapat terkena gejala sakit tenggorokan, demam dan gejala yang menyerupai pilek biasa. Pada masa ini bakteri penyebab difteri akan berkembang biak dalam tubuh dan melepaskan racun yang menyebar ke seluruh tubuh sehingga membuat kondisi fisik penderita sangat lemah.

Pada kasus difteri yang lebih parah, tenggorokan bisa membengkak dan penderita menjadi sesak nafas. Bila ini terjadi lama, bakteri tersebut dapat menutup jalan pernafasan sehingga penderita tidak dapat bernafas dengan normal. Penyakit difteri dapat juga menyebabkan radang pembungkus jantung sehingga penderita dapat meninggal secara mendadak.

Jika tidak segera diobati, racun yang dihasilkan oleh bakteri dapat menyebabkan peradangan pada jaringan saluran nafas bagian atas hingga menyebabkan kematian sel-sel pada jaringan pernafasan tersebut.

Serangan berbahaya penyakit difteri ada pada periode inkubasi 1 sampai 5 hari. Pada fase ini difteri dapat menyebabkan infeksi nasopharynx yang berakibat kesulitan bernafas hingga kematian secara mendadak. Umumnya kematian terjadi karena radang pada membran saluran pernafasan bagian atas, ditambah kerusakan menyeluruh ke seluruh organ.

Ketika difteri menyerang tenggorokan, gejala awalnya adalah penderita mengalami radang tenggotokan, kehilangan nafsu makan dan demam. Dalam waktu 2-3 hari, lapisan putih atau abu-abu bisa diketemukan pada langit-langit tenggorokan dan dapat berdarah. Dan jika terjadi pendarahan, lapisan berubah menjadi abu-abu kehijauan atau hitam. Penderita difteri biasanya tidak demam panas, tapi dapat sakit leher dan sesak nafas.


Pencegahan dan Pengobatan.

Ketika seorang anak mengalami gejala awal menderita difteri, maka dokter akan mengambil diagnosis berdasarkan gejala dan ditemukannya membran. Tak jarang pula dilakukan pemeriksaan terhadap lendir di tenggoroka. Sedangkan untuk melihat kelainan jantung yang terjadi akibat penyakit ini, bisa dilakukan pemeriksaan dengan Elektrokardiogram (EKG).

Setiap anak dapat terinfeksi oleh difteri.
Akan tetapi, kerentanan terhadap infeksi tergantung dari pernah tidaknya ia terinfeksi oleh difteri dan juga pada kekebalannya. Bayi yang dilahirkan oleh ibu yang kebal akan mendapat kekebalan pasif, tetapi tidak akan lebih dari 6 bulan dan pada usia 1 tahun kekebalannya habis sama sekali. Setiap anak yang sembuh dari penyakit difteri tidak selalu mempunyai kekebalan abadi. Paling baik, kekebalan yang didapat secara aktif dengan imunisasi.


Pencegahan yang Efektif.

Pencegahan paling efektif adalah dengan imunisasi. Hal tersebut dilakukan bersamaan dengan tetanus dan pertusis (DPT) sebanyak 3 kali sejak bayi berumur 2 bulan dengan selang penyuntikan 1-2 bulan. Pemberian imunisasi ini akan memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit difteri, pertusis dan tetanus dalam waktu bersamaan.

Selain itu, penyakit difteri dapat dicegah dengan cara selalu menjaga kebersihan, baik diri maupun lingkungan. Penyakit menular ini paling mudah menular di lingkungan yang buruk dengan tingkat sanitasi rendah. Tidak hanya itu, penting pula menjaga pola makan yang sehat.

Pengobatan difteri difokuskan untuk menetralkan toksin atau racun difteri dan untuk membunuh kuman Corynebacterium diphtheriae, penyebab difteri. Dengan pengobatan yang cepat, maka komplikasi yang berat dapat dihindari. Namun, keadaan bisa makin buruk bila usia anak lebih muda, menderita penyakit difteri cukup lama, gizi kurang dan pemberian antitoksin yang terlambat.

Belum menemukan yang anda cari? Klik disini untuk artikel lengkap kami.

-best viewed on PC-