Advertorial Bisnis Online

-best viewed on PC-

Rahasia Mengatur Kuangan Keluarga

Rata Penuh
Kehamilan tampaknya tidak dapat dilepaskan dari masalah keuangan. Inilah sebabnya bila ibu mempunyai rencana untuk mendapatkan kehamilan, ada baiknya ada juga mempersiapkan keuangan keluarga yang cukup untuk merawat kehamilan, proses persalinan dan merawat bayi kelak.

Walaupun merencanakan keuangan itu sama pentingnya dengan proses mendapatkan kehamilan, nampaknya banyak pasangan suami istri di Indonesia yang belum mengerti benar akan hal ini. Padahal apabila mereka harus berhitung, biaya beban hidup yang harus mereka tanggung kelak setelah istri melahirkan jauh lebih banyak dibandingkan dengan ketika masih hidup berdua. Untuk alasan inilah pasangan yang belum mempunyai momongan sebaiknya melihat lebih jauh ke diri pribadi, apakah mereka telah siap baik mental dan fisik (termasuk keuangan) bila nanti mereka mempunyai bayi.

Kita mungkin melewatkan masa masih berdua ini dengan bersenang-senang seperti nonton dan makan setiap weekend dengan pasangan, namun kalau ingin melihat kedepan lagi, kelak mungkin ibu akan menyesal tidak menabung uang tersebut karena ternyata setelah mempunyai bayi, pengeluaran ibu akan semakin membesar terutama untuk membeli susu bayi dan biaya perawatan bayi lainnya seperti pembantu maupun baby sitter.

Satu hal yang bisa kita petik dari hal ini adalah, sebagian dari penghasilan kita saat ini harus digunakan sebagai bentuk investasi untuk memenuhi kebutuhan di masa depan. Inilah sebabnya merencanakan keuangan itu merupakan satu hal yang sama pentingnya dibandingkan dengan mendapatkan kehamilan itu sendiri.

Untuk lebih memudahkan ibu dalam mengatur keuangan keluarga, kami telah mengelompokkan pengeluaran yang mungkin ibu lakukan menjadi 4 bagian penting sebagai berikut :

Membayar Hutang 30%

Pada umumnya sebuah keluarga yang berhasil dalam hidupnya akan menganggarkan sebatas 30% pendapatan keluarga untuk membayar hutang. Yang dimaksud hutang disini adalah cicilan kartu kredit, cicilan KPR, cicilan mobil, cicilan motor dan lain-lain. Untuk itulah bila saat ini alokasi keuangan ibu telah lari ke sector hutang diatas 30%, ibu harus lebih hati-hati dalam merencanakan keuangan dan segeralah lunasi beberapa hutang yang harus dibayar oleh keluarga ibu.

Tabungan dan Investasi 10%

Apabila sebuah keluarga belum mempunyai tujuan keuangan yang jelas (misalkan membayar biaya persalinan, membeli perlengkapan bayi, membeli rumah, membeli asuransi pendidikan dll) maka jumlah minimum yang harus ditabung oleh sebuah keluarga adalah 10% dari pendapatan keluarga. Jumlah ini dapat meningkat seiring dengan tujuan ibu menabung misalkan 5 tahun kemudian harus bisa membayar uang muka rumah/KPR

Premi Asuransi 10%


Tidak ada satu orang pun di dunia yang mampu meramalkan masa depan. Untuk alasan inilah dalam mencapai tujuan keuangan keluarga, ibu perlu meminimalkan resiko keuangan yang mungkin mengganggu seperti hilangnya mata pencaharian keluarga akibat sebab meninggal, kebakaran dll. Jumlah maksimal keuangan keluarga yang dapat ibu alokasikan ke pos asuransi adalah sebesar 10% dari pendapatan keluarga. Ibu sebaiknya tidak menganggarkan jumlah yang lebih besar dari 10% karena belum tentu hal yang kita kawatirkan tersebut akan terjadi di kemudian hari.

Biaya Hidup Keluarga 50%

Secara umum sebuah keluarga yang telah menyadari akan pentingnya berinvestasi dan menabung akan membayar seluruh angsuran hutang di bulan tersebut terlebih dahulu setelah menerima gaji/penghasilan. Selebihnya akan dialokasikan ke tabungan dan bentuk investasi lainnya baru kemudian sisanya digunakan untuk memenuhi biaya beban hidup keluarga. Untuk alas an investasi dan memenuhi keuangan keluarga, sebaiknya seorang ibu mengalokasikan pendapatan keluarga untuk keperluan beban hidup (pembantu, tagihan listrik, air dan telepon, belanja bulanan, pakaian, hiburan dll) sebatas maksimum 50% dari pendapatan keluarga setiap bulan.

Belum menemukan yang anda cari? Klik disini untuk artikel lengkap kami.